DIRGAHAYU SDUA Taman Harapan Curup yang ke 11 (06 April 2008 - 06 April 2019)


Pada Tahun 2008, Pimpinan Cabang Aisyiyah Curup atas nama ibu Hj. Nurlela Bustami adalah salah satu penggagas berdirinya Sekolah Dasar Islam Terpadu Aisyiyah (SDITA) Taman Harapan atau sekarang yang telah berganti nama menjadi Sekolah Dasar Unggulan Aisyiyah (SDUA) Taman Harapan. Saudara Mardiono, SH, MM. selain sebagai salah satu penggagas tapi juga menjadi Kepala Sekolah SDITA yang pertama. Adapun yang melatarbelakangi terwujudnya SDUA ini adalah didirikannya sebuah bangunan yang awalnya ditujukan untuk asrama putra sebab sistim pengasuhan yang menyatukan pergaulan antara anak laki-laki dan perempuan sudah tidak etis lagi. Mengingat kebanyakan dari anak asuh sudah mulai menginjak usia remaja. Hal tersebut  menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengurus panti asuhan khususnya dan segenap pengurus yang duduk di jajaran Aisyiyah cabang maupun daerah umumnya.
Kekhawatiran itu kian bertambah melihat kondisi zaman akhir-akhir ini, di mana kemaksiatan merajalela dan dijadikan makanan pokok oleh hampir setiap komponen masyarakat. Maka untuk menghindari fitnah  atau menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, berbekal dengan uang Rp.15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) dan bertawakal kepada Allah SWT, maka pada tanggal 11 Desember 2006 diadakanlah peletakan batu pertama oleh orang nomor dua di provinsi ini, yaitu Bapak Wakil Gubernur H.M.Syamlan.LC waktu itu dengan disaksikan pula oleh ibu Diah Agusrin (istri dari bapak Gubernur Bengkulu,Agusrin Najamudhin.ST), Bapak Bupati Rejang Lebong H.Suherman, SE beserta istri, Bapak Wakil Bupati Iqbal bastari,S.Pd beserta istri dan Ibu pimpinan Wilayah Aisyiyah Bengkulu Hj. Yuslidar, S.Pd beserta rombongan serta dihadiri pula oleh ratusan jama’ah yang sengaja datang memenuhi undangan keluarga besar panti asuhan.
Hujan deras yang mengguyur di sepanjang pagi hingga siang hari itu seakan turut menyapu bersih hati para hadirin menyambut niat suci yang insyaallah akan kita realisasikan bersama. Alhamdulillah kegiatan peletakan batu pertama tanda mulai pembangunanpun berjalan mulus.Ternyata derasnya hujan bukanlah penghalang untuk melaksanakan sebuah niat baik, hanya do’a yang terus terucap di bibir sebagai cerminan dari sanubari terdalam para pengurus. Semoga hujan yang turun akan menghantar limpahan rizki buat panti asuhan, yang baru saja melangkah, kembali memikirkan dan melaksanakan sebuah program besar, yakni pembangunan asrama yatim putra yang diperkirakan menelan dana sebesar Rp.544.227.000,00. Untuk itu kembali pengurus terutama saudara Mardiono,SH diberi kepercayaan oleh pemilik toko Metro untuk dapat menyelesaikan bangunan secara cepat. Dengan ikhlas saudara pemilik toko Metro kembali bersedia menyiapkan bahan-bahan bangunan yang dibutuhkan dan dapat dibayar secara angsuran dalam tempo yang tidak ditentukan, seperti pada saat pembangunan-pembangunan sebelumnya. Semua terjadi berkat ketentuan  dari Allah SWT . Sementara proses pembangunan terus berlangsung , kira-kira baru mencapai 50 persennya. Tiba-tiba terjadilah apa yang sungguh di luar dugaan. Di  suatu siang pada 4 April 2007 yang lalu datanglah dua orang tamu tak diundang ke panti asuhan yang disambut langsung oleh pimpinan dalam, saudara Mardiono dengan maksud mau menyampaikan amanah dari orang tua mereka, yaitu keinginan untuk mewakafkan sebuah rumah milik Bapak H.Yusuf Syamsudin (Alm) yang terletak di kawasan desa Rimbo Recap.Berdasarkan kesepakatan keluarga tentunya diutuslah Bapak Sudarisman dan Bapak Ujang untuk menyampaikan niat baik itu.Meski diguyur hujan lebat namun ternyata tidak menyurutkan langkah kaki mereka untuk sampai pada tujuan semula.Selanjutnya saudara Mardiono diajak langsung oleh kedua orang utusan keluarga Bapak H.Yusuf Syamsudin (Alm) untuk melihat rumah yang bakal diwakafkan itu.Setelah melihat dengan mata kepala sendiri kondisi rumah yang cukup bagus dan luas itu, terbetiklah hati saudara Mardiono untuk merencanakan rumah tersebut sebagai tempat asrama putra sesuai amanah pemilik rumah yang mengiginkan rumah miliknya dihuni/dimanfaatkan untuk orang banyak.
Kemudian kabar gembira inipun segera disampaikan ke segenap pengurus panti asuhan lengkap dengan pimpinan cabangnya dalam sebuah musyawarah.Setelah dilakukan beberapa kali perundingan,akhirnya diputuskanlah bahwa rumah dari Bapak H.Yusuf Syamsudin (Alm) yang diserahkan lewat tangan-tangan ikhlas anak dan menantu beliau dijadikan untuk  asrama putra. Meski banyak pro dan kontra yang acap kali mewarnai setiap proses  perundingan berlangsung tapi mungkin inilah garis batas yang dipisahkan langsung oleh Allah SWT buat pemisahan antara anak laki-laki dan perempuan yang tentu saja berbeda dengan kadar pemisahan yang direncanakan manusia.
Selanjutnya serah terima wakaf tersebut dilaksanakan secara formal di depan khalayak ramai. Saat bersejarah itu juga disaksikan oleh Bapak Iqbal Bastari, S.Pd dari pihak pemerintah yang datang sesuai dengan kapasitasnya sebagai Wakil Bupati Rejang Lebong, dengan surat “IKRAR WAKAF” bernomor:W.1/26/VI tahun 2007. Dikeluarkan oleh kantor urusan agama kecamatan Curup Selatan yang menjabat sebagai kepala saat itu adalah bapak Drs.Kadar Najmiddin. Pada surat ikrar wakaf tersebut tertera lengkap tentang semua hal yang menyangkut masalah objek wakaf yang  serah terima pada Selasa, 5 Juni 2007 yang lalu. 
Sedangkan pada surat keterangan wakaf yang dibuat oleh Pimpinan Cabang Aisyiyah Curup dicantumkan pula nama dan tanda tangan mereka yang berwakaf dan  saksi-saksi baik dari pihak pemberi maupun pihak penerima wakaf. Berita acara penyerahan wakaf itupun disertakan  dengan sertifikat hak milik bernomor 131 tahun 1994 yang pengelolahan selanjutnya diteruskan kepada pihak PCA Curup urusan panti asuhan, oleh saudara Nurhaimah,S.Ag.
Kembali ke masalah bangunan yang baru saja selesai dicor ,pengecoran dilaksanakan secara gotong royong sebagaimana kebiasaan yang sering dilakukan agar pekerjaan berat terasa ringan. Kali inipun panti asuhan tetap melibatkan banyak kalangan baik secara pribadi maupun mengatas namakan organisasi. Mereka datang dengan keikhlasan hati tanpa pamrih mulai dari anak-anak ,muda-mudi maupun tua-tui turut serta menyumbangkan tenaga dan waktu. Sungguh luapan kegembiraan terpancar di raut mereka , dengan semangat pengabdian yang tinggi semoga jadi amalan,hendaknya.
Di samping itu, pencarian danapun terus digencarkan, tak kenal lelah seluruh komponen kepengurusan hilir mudik ,ke sana ke mari sembari menawarkan produk amal untuk dijajakan kepada hamba Allah yang berminat tentunya. Sementara pembangunan terus berlanjut, Pada tanggal 26 Agustus 2007 dilaksanakanlah musyawarah pertama antara Panti Asuhan dengan Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah lengkap dengan majelis yang dipimpin oleh ketua Panti Nurhaima,S.Ag dengan sekretaris Marmirini mengadakan pertemuan untuk duduk bersama membahas kegunaan gedung yang fungsi awalnya telah beralih kelain tempat yang diyakini bersama sebagai hadiah  terindah dari Allah. Pertemuan itu membahas persoalan pokok mengenai kegunaan apa yang cocok dan sesuai untuk gedung yang sedang dalam proses pembangunan tersebut. usulan-usulan yang datang dari para anggota rapat sempat meramaikan suasana, mulanya pihak Panti memberikan masukan yang disampaikan oleh direktur panti Sdr. Mardiono yakni guna kemandirian panti dimasa yang akan datang, sesuai dengan buku pedoman pengelolaan panti asuhan yang diterbitkan oleh Muhammadiyah, bahwa panti yang mandiri setidaknya  melaksanakan amal usaha seperti Rumah sakit , Sekolah atau mini market, kemudian Ketua PDM  Bapak H.A.I Suardi  mengusulkan agar dijadikan rumah sewaan, sedangkan Wakil ketua PDM Bapak Hn.Azwar mengusulkan jadi gedung serba guna dan Sekretaris PCA Ibu Dra. Yasmar mengusulkan untuk menjadikan gedung tersebut rumah sakit Islam serta ada juga yang mengusulkan untuk rumah sewaan atau kost kemudian usulan terakhir menginginkan gedung itu dijadikan asrama anak kuliahan.
Semua usulan di tampung untuk  segera dibahas dan dipertimbangkan asal tidak melanggar anggaran dasar dan bermanfaat nantinya untuk anak-anak asuh yang ada dipanti asuhan.Setelah berkali-kali diadakan rapat pengurus panti asuhan dengan pengurus cabang Aisyiyah maka pada tanggal 7 Nopember 2007  diambilah suatu keputusan bahwa gedung tersebut akan dijadikan sekolahan yang pengelolaannya diserahkan kepada PCA urusan panti asuhan pada seksi pendidikan, kemudian pada tanggal 11 Nopember 2007 dilaporkanlah oleh PCA Curup dan PDA Rejang lebong kepada PWA Bengkulu, bahwa Aisyiyah Cabang Curup akan mendirikan sebuah Sekolah Dasar dengan nama Sekolah Dasar Islam Terpadu Aisyiyah Taman Harapan disingkat SDITA  yang pengelolaannya dibawah Panti Asuhan meskipun hal tersebut terjadi pro dan kontra karena agak sedikit melenceng dari struktur organisasi.
Semestinya pengelolaan diserahkan kepihak DIKDASMEN yang tugas pokoknya mengurusi masalah pendidikan yang berada di bawah payung Aisyiyah, bukan ke urusan panti asuhan.Namun dikarenakan SDITA merupakan  usaha dari panti asuhan untuk kemandiriannya dan panti asuhan sendiri juga mempunyai kepengurusan khusus dibidang pendidikan sementara pihak DIKDASMEN  tidak sanggup memikul tanggung jawab tersebut maka tidak berlebihan kiranya jika SDITA  tetap berada di bawah urusan panti asuhan seksi pendidikan karena pada hakekatnya tidak melanggar qur’an dan hadist, semoga perbedaan ini dapat dijadikan sebagai bahan muktamar mendatang ( menurut  ibu Dra Yasmar  Sekretaris PCA ). Selanjutnya bertambah jelaslah apa yang harus dipersiapkan dan apa pula yang mesti diselesaikan.Doa dan petunjuk selalu dipanjatkan berharap terbukanya sebuah jalan kemudahan.
Pada tanggal 16 Nopember 2007  diadakanlah musyawarah lagi Membentuk susunan kepengurusan dan merupakan langkah utama yang patut segera dirampungkan,adapun susunan  kepengurusan  pada awal tersebut sebagai berikut:
1.   Pembina : - DIKNAS Kabupaten RL
  - CABDIN DIKNAS Curup
2.   Penanggung jawab : - PCA Curup   - PCA Curup urusan panti asuhan
3.   Penasehat                      : - Hj. Susilawati Suherman,SE.MM
                                              - dr.Hj. Erita Ilyas Rahimullah, S.PA
   - Hj. Elma Tarmizi Usuludin, S.Pd
   -  Hj. Argina Nazarudin,SE
4.   Ketua                           : Dra. Yasmar
5.   Wakil Ketua                : Yamsasni,S.pd
6.   Sekretaris                     : Elva Novianty,M.Pd
7.   Bendahara                    : Juma’atin Syaayaroh,SE
8.   Seksi Humas                : - Misriati               - Su’ainah
9.   Kurikulum                   : Yuliwati,S.Pd
10. Pengembangan            : - Nurhalmaini,Ama.pd
             - Yetty Saidah,BA
11. Sarana dan Prasarana   : Hj. Rosmawaty Djalel Siregar
12. Kepegawaian : Mardiono,SH
              Kepengurusan tersebut berada dibawah Payung PCA Urusan Panti Asuhan seksi Pendidikan juga berkoordinasi  dengan Majelis Dikdasmen Aisyiyah Cabang Curup.Setelah terbentuknya kepengurusan maka diadakanlah perundingan antara pengurus Panti asuhan dengan seksi pandidikan serta Pimpinan Cabang Aisyiyah Curup untuk kembali membahas rencana pendirian SDITA .
Perundingan demi perundingan terus dilaksanakan,untuk membahas hal-hal yang dibutuhkan pendirian sebuah sekolah mulai dari izin pendirian , kurikulum,perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan hingga pada rencana peresmian. Semua yang direncanakan diputuskan dalam musyawarah  tanggal;  5 Desember 2007  musyawarah pengurusan izin pendirian SDITA  ke Diknas R.L, 17 Desember 2007  musyawarah meneliti proposal izin pendirian SDITA,  27 Desember 2007  penyampaian izin pendirian SDITA ke Diknas R.L.
Pada tanggal 30 Desember 2007 diadakanlah musyawarah rencana peresmian SDITA guna mencari kata sepakat kapan pelaksanaan peresmian tersebut dan siapa yang meresmikan sembari menanti izin pendirian SDITA keluar. 
Runding punya runding maka diputuskanlah pertama yang meresmikan sekolahan ini nantinya adalah  Sekjen MPR RI yakni Bapak H. Rahimullah, SH.M.Si.Beliau merupakan putra asli Rejang yang  dipertemukan oleh takdir untuk dijadikan teman seperjuangan,tempat bersandar dalam lelah, tempat bertopang dikala goyah dan tempat menggantungkan segala asa.Tak seorangpun yang dapat meraba rahasia Allah,tidak juga saudara pimpinan panti asuhan yang kala itu sedang dalam perjalanan mencari dana buat pembangunan gedung asrama putra yang merupakan cikal bakal lahirnya SDITA yang kita banggakan ini, kedua pelaksanaan peresmian setelah dikonfermasi kepada Bapak H.Rahimullah SH,M.Si beliau bersedia hadir pada tanggal 6 April 2008, , dengan syarat ada surat yang disampaikan kepada Beliau.
Pada 12 januari 2008  musyawarah pembentukan panitia peresmian SDITA dengan susunan kepanitiaan adalah sebagai berikut :
Penasehat : PDM Rejang Lebong, PDA rejang Lebong, PCM Curup dan PCA Curup
Ketua : Imron Yunus Ketua Pimp.Ranting Muhammadiyah Imam Bonjol.
Wakil Ketua : Murnianto,S.Pd
Sekretaris I : Mardiono,SH
Sekretaris II : Yuniwati
Bendahara : Syafrida sadar


Seksi-Seksi
SeksiPerlengkapan 
Ketua :  Akhyar Malik
Anggota : Bil Islam,  Z.Abidin, Nazarudin , Ujang mahdi, Maha utama, Zulfikar, Sofrin,Ujang antoli, Amirudin, Yose Rizal
Seksi Penyambut Tamu
Ketua : H.A.I Suardi
 Anggota : Drs. Tarmizi Syam, Dailami,SH, Muzazi,S.Ag, Anisah Malik, Nurlela Bustomi,  Nurhalmaini, Hernedi Ma’ruf, S.Ag, Al-Fandie 
Seksi Humas
 Ketua     : Yusdirman
Anggota : Suprihatin
Seksi Dokumentasi
     Anak asuh Panti
Seksi Acara
     Sasra Yuliana,S.Ag, Delfi, Darneti, Yamsasni
Seksi Keamanan
Ketua  : Agus Polisi, Zaini Pos, Irmas Nurul Huda, tapak Suci Muhammadiyah
Seksi Konsumsi
Ketua : Nurlela Bustomi
      Anggota : Yosmawanti, Maizar, Warneri, Nani Nazar, Guru TK,  marmirini, Tina Utama, NA Cabang, NA Daerah, Anak asuh panti putrid
Seksi Pencari Dana
Ketua : Sriwijayanti
Anggota: Syafrida sadar, Rosni, Suainah, Farida gafar
MC    : Yuniwati
Akhirnya, pada tanggal 14 Januari 2008 Izin pendirian SDITA dari Diknas R.L Keluar dengan nomor : 421.2/0151/DS/Diknas/2008. Lalu mulailah pengurus bekerja sesuai dengan tanggung jawab yang telah dibebankan kepada masing – masing mereka.
Surat permohonan untuk dapat meresmikan gedung  baru (SDITA) yang rencananya akan dibuka pada tahun ajaran baru 2008/2009 mendatang disampaikan langsung oleh saudara Mardiono.Ternyata diluar dugaan, dimana beliau balik menawarkan kiranya gedung tersebut di resmikan oleh Bapak A.M. Fatwa selaku wakil ketua MPR RI sekaligus sebagai warga Muhammadiyah. 
Andai bapak Wakil ketua MPR RI mau meluluskan permohonan  Panti Asuhan untuk datang sekedar meresmikan sebuah bangunan kecil di kota kecil berarti suatu pertanda bahwa mereka yang duduk di sana (gedung MPR RI) memang benar dari rakyat untuk rakyat. Kabar inipun kembali dimusyawarahkan yakni tanggal 21 Pebruari 2008, dengan tujuan jangan sampai semua yang direncanakan buyar sebelum terlaksana. Pengurus sadar sepenuhnya  ibarat mengharap bintang jatuh dari langit,begitulah gambaran hati saat itu.Was-was dan khawatir selalu menggelayut di alam pikiran masing-masing mereka, apa lagi mosi tidak percaya selalu dihembuskan oleh orang-orang yang  terang-terangan menentang rencana tersebut.Bahkan tak jarang ejekan dan cacian ikut nimbrung memekakkan daun telinga.
Mendatangkan pejabat sekaliber Bapak A.M.Fatwa memang bukan perkara mudah,semua maklum adanya.Mungkin pengurus harus bersabar,seperti yang dikatakan oleh Norman Vincent Pale di dalam buku “CAHAYA IBU” karangan Musbhir, buah hati dari pasangan bapak Amalludin dan ibunda Nurjanah Ismail salah seorang tokoh pendiri panti asuhan,”JIKA TUHAN INGIN MEMBERI KITA SEBUAH HADIAH,DIA AKAN MEMBUNGKUSNYA DALAM SEBUAH MASALAH.SEMAKIN BESAR MASALAH YANG KITA HADAPI,AKAN SEMAKIN BESAR HADIAHNYA.BAIK DALAM BENTUK PELAJARAN-PELAJARAN YANG BERHARGA MAUPUN DALAM BENTUK IDE-IDE DAN WAWASAN-WAWASAN YANG MUNGKIN TERDAPAT DI DALAM MASALAH TERSEBUT”. 
Hubungan via telepon senantiasa dilakukan untuk saling mengingatkan,jangan sampai lupa atau terpaksa batal disebabkan ada kegiatan lain dari pihak bapak sekjend maupun bapak A.M.Fatwa sendiri.Perasaan malu menyelinap dalam diri saudara Mardiono, “duhai badan siapakah gerangan engkau yang senantiasa mengusik ketenangan seorang pejabat Negara” ?..... untuk memastikan kehadiran Bapak A.M Fatwa.
Sampailah pada suatu ketika,di mana saudara Mardiono mengajak Pimpinan Cabang Aisyiyah Curup yakni Ibu Hj. Nurlela Bustami berkunjung ke gedung MPR RI, memenuhi panggilan dari Bapak Sekjen MPR RI via telephon untuk bertatap muka langsung dengan Bapak wakil ketua MPR RI tersebut. Pertemuan singkat penuh arti tersebut kian memantapkan rencana yang telah ditawarkan oleh Bapak Sekjen MPR RI. Kebahagianpun nyaris sampai pada titik akhir karena Rahmat Allah memastikan rencana  kedatangan pejabat Negara tersebut beserta rombangan tentunya.
Bahkan transport dan lain-lain ditanggung oleh mereka sendiri tanpa membebani pihak penyelenggara sedikitpun,subhanallah ……di zaman seperti sekarang masih ada  pejabat Negara yang mau mengerti dan memahami kemampuan kantong panitia penyelenggara.Mudah-mudahan ada banyak pejabat-pejabat Negara lainnya yang punya hati dan perasaan yang sama.Seperti mereka berdua,amin ya…..robbal alamin . Tanggal 27 Maret 2008 diadakanlah Rapat gabungan Pemda Rejang Lebong dengan Pimpinan Cabang Aisyiyah dan Panti guna persiapan penyambutan kedatangan Bapak Sekjend MPR RI dan Wakil Ketua MPR RI.
Hari yang dinanti akhirnya datang juga yakni Pada tanggal 6 April 2008,Semua jajaran kepengurusan Aisyiyah Muhammadiyah bergerak serentak saling bahu membahu guna mempersiapkan segala sesuatunya. Pihak pemerintah Rejang Lebongpun turut serta mengangkat beban berat ini,khususnya bapak Bupati beserta istri yang selalu memberikan dukungannya baik moral maupun material dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh panti asuhan.Termasuk kegiatan peresmian ini juga mendapat dukungan penuh pihak pemerintah, dari menyiapkan sarana dan prasarana  hingga menanggung penuh keseluruhan biaya yang dibutuhkan. 
Ungkapan pribahasa mengatakan”,berat sama dipikul,ringan sama dijinjing”.Tak ketinggalan semua komponen masyarakat Rejang Lebong juga ikut menyingsingkan lengan demi mensukseskan acara peresmian SDITA sesuai dengan rencana semula. Kesibukan luar biasa mulai tampak dari sebulan sebelum hari- H,tak terasa waktu begitu cepat berlalu segenap penguruspun seakan diburu .Bekejaran kesana kemari demi menggapai matahari , ada yang ke Bengkulu guna meminta tolong kepada Pimpinan Wilayah Aisyiyah untuk bertanggung jawab penuh akan penyebaran undangan di kota tersebut.                 
Penantian yang dinanti-nanti akhirnya tiba jua, persiapan guna acara peresmianpun seakan telah siap menyambut tamu agung tersebut,  panitia penjemputanpun juga telah disiapkan, siapa-siapa yang akan menjemput nantinya telah dibuatkan surat tugasnya, mereka adalah :
Bapak HN Azwar
Bapak Abdul Karim S.Sos
Bapak Hernedi Ma’ruf S.Ag
Bapak Dahril 
Bapak H. Riduan 
Ibu Anisah Malik
Ibu Hj. Nurlela Bustomi
Ibu Elva Novianty S.Pd,M.Pd
Ibu Sri Wijayanti
Serta dibantu oleh Bapak Asisten I dan II serta Kabag Humas dan Kabag Kesra Pemda Rejang Lebong serta Polres Rejang Lebong. Sedangkan yang lain menanti dikediaman Bapak Bupati Rejang Lebong guna menyambut kedatangan tamu yang telah lama dinanti-nantikan.
Sabtu, 5 April 2008, Pukul 07.30 Wib berangkatlah rombongan menuju kota Bengkulu dengan mobil yang beriring-iringan disertai bunyi serine mobil Patwal Polres Rejang Lebong,kecepatan laju mobil membuat hati cemas, khawatir takut tak sampai karena baru kali ini ikut serta rombongan Patwal Polres Rejang lebong menjemput pejabat Negara, ujar Bapak Abdul Karim,S.Sos, namun kecemasan dan kegundahgulanaan hati ini pasrah menanti takdir ilahi, sambil hati berdo’a moga sampai tujuan di Bandara Patmawati ujarnya.Kelok jalan yang berliku tak dirasa,hingga sampai juga ditujuan.
Penantian di bandara, bukan hanya rombongan dari Curup saja, dari Pemda Propinsi serta Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Aisyiyah juga hadir menanti sang pejabat. Kelelahan tak dirasa saat itu meski sedikit lama menanti kehadiran tamu agung yang didambakan oleh segenap panitia. Pukul 11.15 wib mendaratlah pesawat yang dinanti oleh puluhan biji mata saat itu, girang menyeruak dalam diri para penjemput, salam hangatpun diulurkan dengan tatapan yang penuh harap dan penuh cita kepada Bapak A.M Fatwa dan Bapak H.Rahimullah SH,M.Si, pejabat yang dinanti selama ini.
Peresmian SDITA berlalu sudah, dan ditetapkanlah bahwa pada tanggal 6 April sebagai hari lahirnya Sekolah Dasar islam Terpadu Aisyiyah Rejang Lebong dengan penandatanganan Prasasti oleh Wakil Ketua MPR RI, Sekjend MPR RI dan Bupati Rejang Lebong.
Agenda Rapat penting yang lain menjelang SDITA berdiri serta setelah SDITA berdiri adalah :
Tanggal  22 Pebruari 2008 rapat masalah system pembiayaan dalam pengelolaan SDITA kedepan yang di laksanakan oleh Pimpinan panti dengan PImpinan Cabang Aisyiyah dengan keputusan : 
Biaya pembangunan yang diterima dari siswa 100%  disetor  kepanti.
Biaya Pendaftaran siswa baru 10 % disetor ke Panti
Biaya Infaq bulanan 2 % disetor ke panti
Keuntungan Kantin disetor ke Panti
Keputusan ini berlaku setelah kondisi keuangan SDITA normal yakni pada tahun ke 5
Tanggal 13 April 2008 rapat masalah penerimaan guru, siswa dan penggajian guru dan staf, dengan rancangan dilakukan oleh Bagian Kepegawaian ( Mardiono)
 Tanggal 10 Juni 2008 perubahan struktur panti  yang selama ini pengendalian oleh Pimpinan cabang Urusan Panti didelegasikan menjadi pengendalian panti oleh direktur panti yang bertanggung jawab kepada Pimpinan Cabang Urusan Panti, hal ini dikarenakan sudah banyaknya amal usaha yang dilaksanakan oleh panti dan perlu dikontrol dan pengawasan serta pertanggung jawaban. 
Usaha tersebut antara lain : - SDITA      
- Buletin,  - Santunan Tahara     - Panti Putra     - Panti Putri     -  Balai Pengobatan
- Memburu berkah         - Gedung Serba guna
5.   Tanggal 9 Agustus 2008 Peletakan batu pertama kedua pembangunan gedung SDITA oleh Bapak Sekjen MPR RI Rahimullah ,SH,M.Si dan Ketua Aspindo Jakarta Bapak Mulyadi kahar
6. Tanggal 22 Nopember 2010 Pengukuhan SDITA sebagai Pilot Project International Standard Islamic Elementery School oleh Pimpinan Pusat Aisyiyah Yogyakarta dan Pimpinan Pusat Aisyiyah Jakarta disaksikan oleh Pimpinan Wilayah Aisyiyah Bengkulu, Istri Bupati Rejang lebong dan Pimpinan Daerah Rejang lebong serta Pimpinan cabang Aisyiyah Curup.
Penerimaan murid baru untuk tahun pertama dimulai, alhamdulillah antusias masyarakat menyambut sekolah baru berdiri tersebut cukup banyak, Namun dibalik kepuasan tersebut masih menggelayut seonggok beban yang akan dipikul dimasa yang akan datang.
Hari berganti minggu, minggupun berganti bulan para pengurus mulai resah memikirkan bangunan baru untuk persiapan siswa kelas dua sementara lahanpun tiada, menghadapi permasalahan tersebut pengurus mulai mengambil ancang-ancang, melirik lahan yang ada di belakang gedung  meski  jauh panggang dari api tanah tersebut ternyata dibandrol dengan harga lumayan tinggi yang mustahil bisa diraih tapi pengurus tidak patah arang setelah kompromi sana sini, melalui beberapa kali pertemuan maka disepakatilah untuk membeli tanah tersebut dengan cara cicilan.Alhamdulillah  uang muka sebesar RP. 50.000.000,00 rupiah  diperoleh dari pinjaman dari bapak dahril, suami dari salah satu pengurus panti yaitu ibu Yuliwati, S.Pd.
Setelah proses pembelian disepakati dengan pemilik lahan kembali saudara Mardiono menawarkan program “WAKAF TANAH” untuk pembangunan gedung sekolah selanjutnya dalam suatu rapat tentunya dan kembali mendapat persetujuan dari dewan pengurus lainnya. Mulailah saudara Mardiono bekerja seperti biasa siang malam tiada henti demi mewujudkan sekolah impian yang dapat dijadikan tempat bernaung anak-anak panti asuhan dimasa mendatang.Program wakaf tanah yang digagas saudara Mardionopun mendapat sambutan yang luar biasa dari segenap lapisan masyarakat Rejang Lebong, dari orang biasa sampai konglomerat dan para pejabat. Semua ikut bagian seakan tak rela ketinggalan  dalam menggarap proyek amal ini, mulai dari setengah meter hingga ada yang mewakafkan sampai 20 meter per orang. Sungguh suatu trobosan yang patut diacungi jempol hanya dengan RP. 50.000,00 per meter persegi kita bisa membangun masa depan anak negeri dan menata perekonomian anak panti. Dalam waktu yang relative singkat  akhirnya uangpun terkumpul sudah, pelunasan lahan segera dibayarkan dengan melibatkan segenap jajaran pengurus dan aparat terkait.
Usai persoalan lahan timbul permasalahan baru, bagaimana pula cara menggalang dana untuk pembangunan gedung ?........lagi-lagi ide cemerlang saudara Mardiono muncul, beliau kembali menggagas cara pengumpulan dana dengan wakaf bahan bangunan seperti besi, bata, batu, semen, atap dll yang dikemas dalam program “ WASIAT BUNDA”, monggo bagi para anak generasi muda yang berniat dan berminat untuk berwakaf buat ayah bundanya dan Alhamdulillah program inipun diterima dengan tangan terbuka oleh semua kalangan bahkan ada yang menyumbangkan satu local seharga RP. 100.000.000,00 rupiah. Mereka adalah Keluarga besar Bapak H. Rahimullah, M.Si ( Sekjend MPR RI) dan Bapak H. Syaipullah Sirin (Direktur Utama Grafindo Group)

Ternyata janji Allah itu pasti, Man jadda wajada, kata Allah  barang siapa yang bersungguh-sungguh akan dapat, barang siapa yang berjalan pasti sampai ke tujuan.
Akhirnya segala usaha segenap pengurus berbuah manis sekolah impianpun selesai sudah selang beberapa tahun kemudian, tepatnya awal ramadhan 1435 Hijriyah  meski masih menyisahkan kasbon  namun dalam hati pengurus tetap bangga, menatap bangunan tiga tingkat berdiri dengan kokohnya terutama saudara Mardiono selaku motor penggerak, seolah terkesiap tak percaya, seperti mimpi disiang bolong. Terbersitlah keinginan hati beliau untuk mensyukuri nikmat tuhan dengan mengumpulkan  segenap jajaran  pengurus dan anak panti beserta dewan guru untuk berbuka puasa bersama pada hari itu.
Kegembiraan penguuspun kian bertambah, tak dinyana sekolah yang baru seumur jagung mampu bersaing tidak hanya di kabupaten Rejang Lebong, propinsi bahkan merambah  tingkat nasional. Hal tersebut ditandai dengan beberapa prestasi anak maupun sekolah yang terukir indah dalam bingkai sejarah pendidikan dan yang lebih membanggakan lagi Sekolah Dasar Islam Terpadu Aisyiyah  terakreditasi A , dengan nilai sangat  93 (amat baik). Bukan hanya nilainya yang membanggakan tapi konon SDITA merupakan satu-satunya sekolah di Indonesia yang berani mengajukan akreditasi sebelum meluluskan siswa.

 Seiring berjalannya waktu, para pengurus Áisyiyah Pusat memberikan masukan agar nama SDITA berubah menjadi Sekolah Dasar Unggulan Áisyiyah (SDUA) karena  SDITA adalah Pilot Project dari Äisyiyah dari Pimpinan Pusat. Pimpinan Pusat berharap dengan berubahnya nama SDITA menjadi SDUA, maka SDITA tetap dapat meningkatkan dan mempertahankan keunggulan nya di segala bidang. 
Akhirnya, setelah melalui proses yang panjang lebih kurang 8 bulan lamanya mengurus pergantian nama, maka pada tanggal 01 Agustus 2016, nama SDITA berubah menjadi SDUA (Sekolah Dasar Unggulan Aisyiyah).kehadirannya disambut dengan suka cita,nama yang indah penuh arti versi para pecintanya, semoga pergantian nama menjadi  SDUA  membawa berkah bagi semua orang hingga batas akhir yang ditentukan Allah.
Kepuasan tersirat jelas diwajah  para pengurus yang mulai berselimut keriput tua, tak dipungkiri kepuasan itupun menyelinap dalam sanubari  saudara Mardiono, tumbuh dan mekar memenuhi setiap ruang kalbu  sembari membisik kata,” KUPERSEMBAHKAN SDUA INI KEPADAMU WAHAI BUNDAKU, AISYIYAH YANG TELAH MENANAMKAN BENIH CINTA YANG TIADA TARA.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SDUA Taman Harapan Curup kembali menorehkan Prestasi pada Event Acara "Beri Aksi Edukasi & Seni (BAES) 2019" yang di adakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan PGMI IAIN Curup se-Kabupaten Rejang Lebong pada Tanggal 06 Maret 2019 s/d 08 Maret 2019

Dewan Guru (Ustadz-ustadz) SDUA Taman Harapan Curup